Arsitektur Transisi di Nusantara Dari Akhir Abad 19 ke Awal Abad 20 (Part 4)

Arsitektur-TransisiSambungan dari Part 3

Perumahan (barak) Prajurid

Barak prajurid , condong untuk berbentuk fungsional. Fungsional dalam arti bisa menampung orang banyak (sesuai dengan kehidupan ketentaraan), dengan jajaran tempat tidur. Fasilitas seperti kamar mandi dan w.c. merupakan fasilitas bersama seperti halnya dengan fasilitas umum lainnya seperti ruang makan dan ruang istirahat atau ‘game room’.

Atapnya berbentuk atap perisai. Biasanya terdiri dari dua buah unit massa yang sejajar, kemudian disambung dengan sebuah massa yang tegak lurus yang menyatukan antara kedua massa yang sejajar tersebut. Tidak ada suatu yang istimewa dalam bentuk arsitektur barak tentara ini karena semua perancangan bersifat fungsional sekali, sehingga efisiensi merupakan syarat utama dalam perancangannya.

Denah barak prajurid pada komplek militer Belanda, pada abad transisi dari bad 19 ke abad 20

Denah barak prajurid pada komplek militer Belanda, pada abad transisi dari bad 19 ke abad 20

Kantin Perwira

Seperti yang telah dijelaskan di depan bahwa kehidupan dalam dunia kemiliteran penuh dengan kedisiplinan dan hirarki yang ketat. Sampai kantin dalam komplek kemiliteran pun dipisahkan antara kantin prajurid dan kantin perwira. Kantin merupakan massa yang penting dalam komplek militer. Karena di kantinlah para perwira secara tidak resmi berkumpul dan beristirahat.

Tampak depan kantin perwira pada komplek militer yang ada di Bandung sudah meninggalkan ciri arsitektur ‘indische empire” sama sekali. Sebagai bagian dari ‘tropenkampementen’ (komplek militer daerah tropis), bangunan ini juga sangat menysuaikan dengan iklim tropis. Adanya galerij (teras) keliling yang dilindungi dengan atap tambahan dengan pembukaan yang berbentuk vault, merupakan salah satu pemecahan terhadap masuknya sinar matahari langsung dan tampiasnya air hujan.

Pemecahan seperti tersebut diatas banyak sekali digunakan pada bangunan kolonial pada masa itu. Salah satu ciri yang lain adalah digunakannya menara (tower) pada pintu masuk, yang sering digunakan pada bangunan fasilitas umum pada masa arsitektur peralihan (1890-1915). Pengunaan tower ini mengingatkan kita pada menara gereja calvinis di Belanda, yang memang sering digunakan sebagai tanda pintu masuk utama pada bangunan fasilitas umum. Di Hindia Belanda waktu itu juga umum digunakan antara th. 1890-1915 .

Tampak depan kantin perwira pada komplek militer di Bandung . Ciri khas pemecahan terhadap Iklim tropis lembab dengan membuat teras keliling pada denahnya masih tetap digunakan.

Tampak depan kantin perwira pada komplek militer di Bandung . Ciri khas pemecahan terhadap Iklim tropis lembab dengan membuat teras keliling pada denahnya masih tetap digunakan.

Bentuk Arsitektur Transisi Dari Akhir Abad 19 dan Awal Abad 20 di Hindia Belanda Diluar Komplek Militer

Sebenarnya diluar komplek militer, banyak bentuk arsitektur transisi dari abad 19 ke awal abad 20 ini. Bentuk arsitektur transisi tersebut dipelopori oleh  Dinas Pekerjaan Umum pemerintah kolonial sendiri yang biasa disebut sebagai BOW (Burgelijke Openbare Werken). Perubahan dalam bentuk arsitekur pada Dinas Pekerjaan Umum yang menangani hampir semua bangunan pemerintah kolonial waktu itu dipelopori oleh arsitek-arstek muda lulusan TH Delft yang bekerja pada tahun peralihan tersebut. Mereka ini antara lain seperti Ir. J.van Hoytema dan Ir. S. Snuyf.

Tapi perubahan dalam perancangan gedung pemerintahan tersebut pada  perkembangannya terus menuju kearah gaya arsitektur modern, terutama setelah masuknya Ir. F.J.L. Ghijsels dan C.P.Wolf. Shoemaker ke dalam departemen tersebut. Karya yang bisa digolongkan  sebagai arsitektur transisi sekarang kebanyakan sudah dibongkar. Tapi yang ada antara lain adalah:

  • Kantor PTT (Post, Telegraaf en Telefoon) di Jogjakarta yang dirancang oleh BOW pada Th. 1910 dan dibangun pada th. 1912
  • Kantor Pos Besar Medan dibangun pada th. 1909 dirancang oleh arsitek S. Snuyf dari BOW. Bangunan tersebut temasuk salah satu bentuk arsitektur transisi yang dirancang oleh BOW.
  • Kantor Pusat “Nillmij”, Jl. Juanda Jakarta. Dirancang oleh arsitek: P.A.J.Moojen dan S. Snuyft pada th. 1909. Bentuk arsitektur ini tergolong sebagai arsitektur transisi. Salah satu cirinya adalah bentuk menara (tower) serta gevel-gevel depan yang mengingatkan kita pada arsitektur rumah-rumah di Balanda yang menghadap ke sungai.
Ir. J. van Hoytema ( kiri) dan Ir. S. Snuyf (kanan),  merupakan arsitek-arsitek utama bangunan pemerintahan yang dibangun oleh BOW, pada peralihan akhir abad 19 ke awal  abad ke 20.

Ir. J. van Hoytema ( kiri) dan Ir. S. Snuyf (kanan), merupakan arsitek-arsitek utama bangunan pemerintahan yang dibangun oleh BOW, pada peralihan akhir abad 19 ke awal abad ke 20.

Kantor PTT (Post, Telegraaf en Telefoon) di Jogjakarta yang dirancang oleh BOW pada Th. 1910 dan dibangun pada th. 1912. Bangunan tersebut merupakan salah satu contoh  arsitektur transisi, yang dirancang oleh BOW.

Kantor PTT (Post, Telegraaf en Telefoon) di Jogjakarta yang dirancang oleh BOW pada Th. 1910 dan dibangun pada th. 1912. Bangunan tersebut merupakan salah satu contoh arsitektur transisi, yang dirancang oleh BOW.

Kantor Pos besar Medan dibangun pada th. 1909 dirancang oleh arsitek S. Snuyf dari BOW. Bangunan tersebut temasuk salah satu bentuk arsitektur transisi yang  dirancang oleh BOW.

Kantor Pos besar Medan dibangun pada th. 1909 dirancang oleh arsitek S. Snuyf dari BOW. Bangunan tersebut temasuk salah satu bentuk arsitektur transisi yang dirancang oleh BOW.

Kantor Pusat “Nillmij”, Jl. Juanda Jakarta. Dirancang  oleh arsitek: P.A.J.Moojen dan S. Snuyft pada th. 1909. Bentuk arsitektur ini tergolong sebagai arsitektur transisi. Salah  satu cirinya adalah bentuk menara (tower) serta gevel-gevel depan yang mengingatkan kita pada arsitektur rumah-rumah di Balanda  yang menghadap ke sungai.

Kantor Pusat “Nillmij”, Jl. Juanda Jakarta. Dirancang oleh arsitek: P.A.J.Moojen dan S. Snuyft pada th. 1909. Bentuk arsitektur ini tergolong sebagai arsitektur transisi. Salah satu cirinya adalah bentuk menara (tower) serta gevel-gevel depan yang mengingatkan kita pada arsitektur rumah-rumah di Balanda yang menghadap ke sungai.

Hotel Savoy Homann, jl. Asia Afrika, Bandung.  Dirancang oleh arsitek A.F. Aalbers th. 1939. Bangunan ini tergolong dalam bentuk arsitektur kolonial modern.

Hotel Savoy Homann, jl. Asia Afrika, Bandung. Dirancang oleh arsitek A.F. Aalbers th. 1939. Bangunan ini tergolong dalam bentuk arsitektur kolonial modern.

KESIMPULAN

KESIMPULAN

Gaya arsitektur transisi memang berlangsung sangat singkat (1890-1915), sehingga sering luput dari perhatian kita. Sebab-sebabnya, seperti yang telah dijelaskan di depan bahwa masa transisi dari abad 19 ke abad 20 di Hindia Belanda dipenuhi oleh banyak perubahan dalam masyarakatnya.

Modernisasi dengan penemuan baru dalam bidang teknologi dan perubahan sosial akibat dari kebijakan pemerintah kolonial waktu itu mengakibatkan perubahan bentuk dan gaya dalam bidang arsitektur. Perubahan tersebut tidak segera terjadi, tapi melewati satu tahapan yang kemudian disebut sebagai masa arsitektur transisi. Perumahan perwira Militer yang dibangun pada awal abad ke 20 pun tidak lepas dari keadaan pada masa itu.

Karena waktu yang cukup singkat tersebut (antara 20-30 th), maka perubahan ini tidak terdokumentasi dengan baik. Untunglah bahwa buku ‘Kromoblanda’ banyak mendokumentasi pembangunan pada waktu itu.

Sumber Pustaka :

  1. Akihary, Huib  (1990), Architectuur en Stedebouw in Indonesie 1870-1970, De Walburg Pers ,Zutphen.
  2. Gideon Sigfried (1971), Architecture And The Phenomena Of Transition, Havard University Press, Camridge, Massachusttes.
  3. Gill, Ronald Gilbert (1995), De Indische Stad op Java en Madura, een Morphologische Studie van haar Ontwikkeling.  Disertasi Doktor.
  4. Het Huis Oud & Nieuw (1903-1926)
  5. Het Nederland sch-Indische Huis Oud & Nieuw (1913-1916)(NIHON)
  6. Jessup, Helen (1988), Netherlands Architecture In Indonesia 1900-1942, Disertasi pada Courtlaud Institute of Art, London.
  7. Mrazek, Rudolf (2006), Engineers of Happy Land, Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di sebuah Koloni, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.
  8. Nederlandsch-Indie Oud & Nieuw (1916-1934)(NION)
  9. Nix, Charles Thomas (1949), Bijdragen Tot Vormleer Van De Stedebouw In Het Bijzonder Voor Indonesia, Disertasi yang dipertahankan tgl. 22 Juni 1949 , pada Technische Hoogeschool di Delft.
  10. Tillema H.F. (1922), “Kromoblanda” Over’t Vraagstuk van ” het Wonen” in Kromo’s land, Vijfde Deel, Tweede Stuk.
  11. van der Wall, V.J., (1942), Oude Hollandsche Bouwkunst in Indonesia, Hollandsche Koloniale Bouwkunst in de XVII ein XVIII eeuw, Antwerp

Penulis oleh :

  • Samuel Hartono
    Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Jurusan Arsitektur, Universitas Kristen Petra
  • Handinoto
    Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Jurusan Arsitektur, Universitas Kristen Petra

.

Part 1 Part 2 Part 3 Part 4
Advertisements

8 comments on “Arsitektur Transisi di Nusantara Dari Akhir Abad 19 ke Awal Abad 20 (Part 4)

  1. Pingback: Menyalakan Komputer? Apa Bisa? :: Computers and Equipment

  2. wah saya baru tahu klo sering ada tower sebagai penanda pintu masuk utama 🙂
    btw klo savoy homann masuk arsitektur modern, kenapa fotonya dimasukkan ke dalam artikel bangunan transisi ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s