Arsitektur Transisi di Nusantara Dari Akhir Abad 19 ke Awal Abad 20 (Part 3)

Arsitektur-TransisiSambungan dari Part 2

Bentuk Perumahan Perwira dan Fasilitas Militer Lainnya.

Disiplin yang tinggi serta hirarki yang ketat merupakan salah satu ciri khas kehidupan dalam dunia kemiliteran. Hirarki yang ketat ini membedakan kelompok perwira dan kelompok prajurit dalam kehidupan kemiliteran se hari-hari nya. Perbedaan ini juga dilukiskan pada bentuk phisik perumahannya dalam sebuah komplek militer. Dalam Hirarki kepangkatan perwira (dibawah Jendral ), berturut-turut adalah Kolonel, Kapten dan Letnan. Jadi rumah dinas seorang Kolonel mempunyai luasan yang lebih besar serta tampak yang lebih megah dibanding rumah dinas seorang Kapten, demikian seterusnya.

Table-PERKEMBANGAN-ARSITEKTUR-03

Tampak depan prototype rumah dinas seorang Kolonel. Kesan simetri yang kuat seperti arsitektur renaissance masih mendominir tampak depannya. Meskipun ada perubahan dalam tampak, tapi denah dan perhatian terhadap iklim tropis lembab, masih mengacu pada bentuk arsitektur sebelumnya.

Denah rumah dinas seorang Kolonel. Rumah utama dengan  achter galerij (teras belakang) dan voor galerij (teras depan), mengingatkan kita pada denah rumah gaya ‘indische empire’. Demikian juga dengan bangunan paviliun dikiri dan kanan bangunan utama, yang sering dipakai untuk tamu menginap.

Denah rumah dinas seorang Kolonel. Rumah utama dengan achter galerij (teras belakang) dan voor galerij (teras depan), mengingatkan kita pada denah rumah gaya ‘indische empire’. Demikian juga dengan bangunan paviliun dikiri dan kanan bangunan utama, yang sering dipakai untuk tamu menginap.

Rumah Dinas Kolonel

Pada kedua gambar diatas terlihat tampak dan denah prototype rumah dinas kolonel.  Denahnya terbagi atas rumah induk dengan paviliun. Rumah Induk yang terdiri dari kamar-kamar mempunyai luasan 8.00 X 5.50 M. Adanya voorgalerij (teras depan) dan achtergalerij (teras belakang), serta ruang depan yang digunakan sebagai kamar kerja, masih mewarnai denahnya.

Tampak depannya berbeda jika dibandingkan dengan tampak arsitektur gaya Indische Empire ( yang didominasi dengan barisan kolom-kolom depan yang bergaya doric, ionic atau corinthian). Tapi penataan ruang pada denah rumah utamanya tidak berbeda jauh dengan denah-denah bangunan pada abad ke 19. Ciri-ciri yang tidak ditinggalkan pada denahnya bisa ditengarai misalnya dengan kebiasaan membuat denah dengan bentuk simetri.

Perhatian terhadap iklim tropis lembab  seperti di Nusantara, tetap mendapat perhatian utama dalam desain-desain perumahan perwira. Hanya terdapat penyesuaian dengan kehidupan militer pada denahnya seperti banyaknya kamar-kamar di denah paviliunnya yang biasanya ditempati oleh prajurid pengawal, sesuai dengan standart pengamanan dalam dunia militer.

Bentuk atap menunjukkan ciri atap yang khas Eropa. Bentuk atap serta sistim pembukaan pada terasnya yang menggunakan pembukaan lengkung  (vault), merupakan salah satu ciri tampak dari rumah seorang kolonel.  Tampak rumah yang berbeda dalam sebuah komplek perumahan militer perlu untuk memberikan ciri khas, mana rumah kolonel, mana rumah kapten dan sebagainya. Mengingat hirarki pada dunia militer adalah sangat ketat.

Rumah Dinas  Kapten

Denah dan Tampak rumah tinggal Kapten dapat dilihat pada gambar berikut. Luas denahnya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan rumah dinas seorang Kolonel. Demikian juga tampaknya jauh lebih sederhana. Hal ini sesuai dengan hirarki kepangkatan yang ada dalam dunia kemiliteran. Pada denah ruamah dinas Kapten tidak terdapat paviljiun.

Denahnya hanya terdiri dari dua bagian yaitu rumah induk dan rumah belakang yang sebagian dipakai untuk keperluan service, seperti kamar mandi, dapur, kamar pembantu dsb.nya. Antara kedua massa bangunan ini dihubungan dengan galerij. Bentuk denah rumah tinggal pada abad ke 19 dan awal abad ke 20, kebanyakan memisahkan bagian service (kamar mandi, dapur, ruang jemuran, kamar pembantu dsb.nya) dengan bagian utama bangunan (kamar kerja, kamar tidur, ruang makan dsb.nya). Salah satu alasannya disebabkan karena daerah service (kamar mandi, dapur, cuci, dsb.nya) dianggap kotor ( lembab, kotor dan berbau). Itulah sebabnya perlu dijauhkan dengan aktifitas kehidupan santai sehari-hari seperti, ruang duduk, ruang makan dan ruang tidur.

Pada rumah induknya pun tidak terlalu banyak teras. Meskipun masih ada teras depan (achter galerij) Teras atau galerij belakang, tapi teras belakang relatif sempit jika dibandingkan teras rumah seorang kolonel. Rumah tinggal seorang Kapten terdapat 4 buah kamar pembantu yang masing-masing berukuran 3.00×3.00 M. Sedangkan kamar keluarganya masing-masing berukuran 5.50×5.00 M

Denah rumah tinggal dinas seorang Kapten.  Rumah induk utamanya ada di depan, sedangkan daerah  servisnya diletakkan dibagian belakang. Rumah yang lebih kecil  seperti ini tidak punya paviliun disamping rumah induknya.

Denah rumah tinggal dinas seorang Kapten. Rumah induk utamanya ada di depan, sedangkan daerah servisnya diletakkan dibagian belakang. Rumah yang lebih kecil seperti ini tidak punya paviliun disamping rumah induknya.

Tampak depan rumah dinas seorang Kapten. Overstek yang cukup  lebar,  pembukaan diatas jendela untuk cross ventilasi dan luifel untuk pembayangan serta menghindari tampiasnya air hujan, menunjukkan adanya perhatian akan iklim tropis lembab  di Nusantara.

Tampak depan rumah dinas seorang Kapten. Overstek yang cukup lebar, pembukaan diatas jendela untuk cross ventilasi dan luifel untuk pembayangan serta menghindari tampiasnya air hujan, menunjukkan adanya perhatian akan iklim tropis lembab di Nusantara.

Rumah Dinas Letnan

Rumah dinas Letnan, yang merupakan hirarki terendah dalam jajaran perwira di ketentaraan, berupa rumah kopel. Atapnya berbentuk atap pelana dari bahan genting. Meskipun tidak seluas rumah untuk seorang Kolonel maupun Kapten , tapi rumah dinas seorang Letnan ini cukup memadai. Bagian service yang ada di belakang dan halaman samping yang cukup luas. Kamar tidurnya ada 2 buah dan sebuah kamar kerja.

Type denahnya memang tidak serupa dengan denah-denah arsitektur gaya indische empire, yang didominir dengan beranda depan dan beranda belakang yang nyaman.  Disamping rumah induknya terdapat halaman yang tidak terlalu luas. Denahnya berbentuk symetri. Terdapat pagar keliling yang membatasi rumahnya dengan bagian lain di dalam komplek militer. Tampak depannya menonjolkan gevel dengan atap pelana. Denah dan tampak rumah dinas Letnan merupakan bentuk arsitektur yang sama sekali tidak mengacu pada arsitektur ‘Indische Empire“.

Denah rumah tinggal seorang Letnan. Ukurannya lebih  kecil dan merupakan rumah kopel.

Denah rumah tinggal seorang Letnan. Ukurannya lebih kecil dan merupakan rumah kopel.

Tampak Depan rumah tinggal seorang Letnan. Rumah dinas Letnan adalah rumah Kopel (dua rumah yang atapnya menjadi satu)

Tampak Depan rumah tinggal seorang Letnan. Rumah dinas Letnan adalah rumah Kopel (dua rumah yang atapnya menjadi satu)

Part 1 Part 2 Part 3 Part 4
Advertisements

One comment on “Arsitektur Transisi di Nusantara Dari Akhir Abad 19 ke Awal Abad 20 (Part 3)

  1. Pingback: Arsitektur Transisi di Nusantara Dari Akhir Abad 19 ke Awal Abad 20 (Part 4) « Artvisualizer Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s