Arsitektur Transisi di Nusantara Dari Akhir Abad 19 ke Awal Abad 20 (Part 2)

Arsitektur-TransisiSambungan dari Part 1

Situasi Perkembangan Arsitektur Pada Akhir Abad ke 19 di Hindia Belanda.

Abad ke 18 dan 19, arsitektur di Hindia Belanda didominasi oleh gaya yang disebut sebagai “Indische Empire” (Nix:1949,Jessup:1988, Akihary:1990). Sebelum munculnya gaya arsitektur yang sering disebut sebagai ‘kolonial modern’  sesudah tahun 1915, terdapat apa yang disebut sebagai gaya arsitektur transisi. Gaya arsitektur transisi ini sering luput dari pengelihatan sejarawan arsitektur. Bahkan sering digolongkan sebagai arsitektur kolonial modern.

Pada umumnya arsitektur transisi ini mempunyai bentuk denah yang hampir mirip dengan arsitektur “Indische Empire”. Ciri-ciri seperti adanya teras depan (voor galerij) dan teras belakang (achter galerij) serta ruang utama (central room), masih mendominasi denah-denah arsitektur peralihan ini. Pada rumah-rumah yang berukuran besar, juga masih terdapat bangunan samping yang sering disebut sebagai ‘paviliun’. Semangat perubahan justru terletak pada tampak bangunannya.

Pada arsitektur transisi ini sudah tidak tampak kolom-kolom atau pilar dengan gaya Yunani atau Romawi (doric, ionic, corinthian) pada ‘voor galerij’ atau ‘achter galerij’ yang menjadi ciri khas gaya ‘indische empire’. Pada awal abad 20, sebenarnya sudah bertiup angin perubahan dalam dunia arsitektur di Hindia Belanda. Angin perubahan tersebut dibawa oleh akademisi dan arsitek lulusan T.U. Delft dari Belanda yang datang ke Hindia Belanda, akibat makin gencarnya pembangunan di Hindia Belanda waktu itu. Semangat perubahan juga di tiupkan oleh P.A.J. Moojen, yang mendarat di Hindia Belanda pada th. 1903. Moojen menulis bahwa keadaan arsitektur pada th. 1900  di Hindia Belanda sbb:

In de woningbouw had mevrouw, de nonja, de leiding. Zij regelde en bedong de prijzen. Een chinees nam het werk in onderdeelen aan en hij en de koelies werkten onder haar oppertoezicht, volgens de aanwijzing van een opzichter waterstaat, die over voldoenden vrijen tijd de beschikking had om een ontwerpteekening, volgen model nummer zoveel te maken en gedurende den buw wat technisch toezicht te houden. Plaats voor een architect, die niet als aannemer optrad, die zich daarenboven wel met kunst bemoeide, bestond volgens de alalgemeene opinie in Indie niet en de beste raad, dien men kon geven: ‘pak de eerste de beste boot naar Holland” ( P.A.J. Moojen, Ontwikkeling der bouwkunst in Nederlandsch Indie 1. Nederlansche Bouwkunst, Bouwen 1e halve jaargang (1924), p. 105.)

(Yang membangun rumah sebenarnya adalah nyonya muda. Ia yang mengatur dan menawar harganya. Seorang China menerima pemborongan pekerjaannya per bagian, sedangkan dia dan para kuli bekerja dibawah pimpinan Nyonya besar tersebut, menurut petunjuk dari pengawas yang bekerja di departemen waterstaat, yang mempunyai cukup waktu untuk membuat rencana gambar bangunan menurut model nomor sekian dan pengawas tersebut selama pembangunan kadang-kadang mengawasi pekerjaan teknis nya. Memang waktu itu tidak ada tempat bagi arsitek profesional yang bekerja tidak merangkap bekerja sebagai pemborong., atau arsitek yang benar-benar berprofesi sebagai perancang bangunan murni. Dan nasehat yang sering diberikan adalah: Bersiaplah beserta barang-barangmu dan sebaiknya kembalilah ke negeri Belanda”.)

Tulisan Moojen diatas menggambarkan keadaan dan situasi pembangunan di Hindia Belanda pada th. 1900 an. Pembaharuan dalam praktek dunia arsitektur di Hindia Belanda dimulai oleh Departemen BOW (Burgelijke Openbare Werken-sekarang departemen P.U.). Dalam departemen ini praktek-praktek pembangunan dengan menggunakan arsitek profesional mulai diperkenalkan di Hindia Belanda. Seperti yang kita lihat kemudian,  praktek pembangunan pada bangunan swasta mengikuti cara-cara yang diberikan oleh BOW  tersebut. Tapi tenaga profesional dalam bidang asitektur di Hindia Belanda pada th. 1900an masih sangat terbatas sekali. Sehingga muncul hasil semangat perubahan pada   th. 1890-1915 an yang disebut sebagai ‘gaya arsitektur transisi’ yang sebagian besar dirancang oleh para opziter (pengawas) yang bekerja rangkap pada dinas pembangunan di pemerintahan Hindia Belanda waktu itu.

Table-PERKEMBANGAN-ARSITEKTUR-01 Table-PERKEMBANGAN-ARSITEKTUR-02

Perubahan Dalam Bidang Arsitektur Pada Komplek Militer Di Jawa.

Awal abad ke 20 merupakan puncak kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di Indonesia. Untuk menjawab tantangan modernisasi yang terjadi disemua bidang, maka pemerintah kolonial juga merasa perlu untuk modernisasi sarana phisik angkatan bersenjatanya . Salah satu sarana yang di modernisir tersebut adalah ‘komplek militer’ bagi para prajuridnya. Modernisasi tersebut terjadi pada komplek militer di Batavia serta kota-kota Garnizun yang besar seperti Bandung dan Tjimahi, Magelang, Malang dsb.nya. Pembangunan ‘komplek militer’ pada kota garnizun tersebut diharapkan menjadi prototype bagi pembangunan serupa pada kota garnizun dan komplek militer yang lebih kecil di seluruh Nusantara.

Yang menarik bagi dunia arsitektur waktu itu adalah pembaharuan secara total model arsitektur yang sebelumnya mempunyai gaya “Indische Empire” , mengalami perubahan dengan gaya arsitektur kolonial modern yang disesuaikan dengan iklim setempat.  Kaum militer Belanda sadar betul akan iklim setempat, sehingga mereka ini menamakan kompleknya dengan istilah “tropenkampementen‘ (komplek militer daerah tropis).

Di dalam organisasi militer Belanda masa lalu dikenal bagian yang dinamakan korp zeni bangunan. Bagian inilah dulu yang bertanggung jawab atas pembangunan komplek militer pada jaman kolonial . Di dalam tulisan ini akan dibahas bentuk arsitektur perumahan perwira serta fasilitas pendukung (kantin). Pembahasan yang lebih mendalam tentang ‘lay out’dan ‘site plan komplek militer baik pada jaman kolonial maupun sekarang adalah tidak memungkinkan karena komplek militer merupakan komplek yang bersifat rahasia yang dilindungi oleh undang-undang.

Jadi tulisan ini hanya ingin menunjukkan bahwa arsitektur dalam komplek militer yang jarang dibicarakan dalam perkembangan arsitektur modern di Indonesia, ternyata tidak lepas dari kemajuan arsitektur sipil pada waktu itu.

Part 1 Part 2 Part 3 Part 4
Advertisements

2 comments on “Arsitektur Transisi di Nusantara Dari Akhir Abad 19 ke Awal Abad 20 (Part 2)

  1. Pingback: Arsitektur Transisi di Nusantara Dari Akhir Abad 19 ke Awal Abad 20 (Part 1) « Artvisualizer Blog

  2. Halo, saya baru baca blog ini dan sangat informatif. Kalau boleh tahu, saya boleh minta sumber data gambar untuk rumah rancangan Aalbers di atas untuk kepentingan tesis saya? terima kasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s